Jumat, 23 Februari 2018

Kecantol di Tugu Pancoran

Dear Tunus .,
Kabar mu baikkah ? Semoga liburan mu di pantai Helloween menyenangkan. Ku rasa begitu. Ingatkah kau, Tunus akan pertanyaan mu yang tak terjawab. Dulu, teka-teki akan perjalanan panjang kisah ku berhidup. Sampai kau nobatkan aku dengan sebutan “gadis pelayar” selepas kau mengetahuinya. Aku pun menyeringai sambil berpikir maksud pernyataannya. Namun, hal itu tak masalah bagiku dan tak ingin ku tanyai alasannya. Satu hal yang perlu diketahui, pelayaran itu (masih) belum berhenti mengembangkan layar. Melainkan hanya bisa singgah di beberapa dermaga pilihan. Bisa jadi, pelayaran ini menyesuaikan nama lengkap ku, Tunus yaitu Elvi Safri Dinyyati Rahmatika. Ada 27 huruf 4 kata dalam 1 kalimat yang belum terselesaikan alurnya. Ckckc. -Lebai dikit bolehlah-.
Tunus, bagiku julukan yang kau sandangkan untuk ku terlalu berlebihan. Namun aku menyukainya. -malu-malu, mau-. Huum, ku harap bagi yang mendengarkan ceritanya, jangan dan sampai terprovokasi tuk menelusuri kebenarannya. Waspadalah ! ... *Pizz. Perlu digaris bawahi, berlayar yang dimaksud bukanlah dalam artian bepergian menggunakan kapal atau perahu, seperti cerita yang ada di film anime “One Piece”. –He he-. Melainkan pelayaran perjalanan ku dalam berhidup kurang lebih dua puluh empat tahun 11 bulan. [masih, kategori muda].
Berawal dari peran sebagai balita hingga memasuki fase jenjang pendidikan dari Taman Kanak-kanak hingga SD di tanah kelahiran. Tepatnya di Ujung Batu, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, dilalui kurang lebih selama 13 tahun. Setelah melewati tahun tersebut, aku pun mulai berlayar ke Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara melanjutkan pendidikan pra remaja (SMP) di MTs Al-Ittihadiyah selama 3 tahun. Lalu, lanjut pada fase pendidikan remaja di MAN 1 Model Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat selama 3 tahun. Selepasnya fase pendidikan pra dewasa, S1 di UIN Imam Bonjol Padang yang dulunya masih berstatus IAIN selama 4 tahun. Sekarang, masuklah pada fase dewasa yang harus ku selesaikan rutenya untuk membuka gerbang utama sebagai jawaban “who i am ?”. –Ngantor-
Klimaksnya, tepat dua bulan selepas lulus kuliah September 2016. Tanya demi pertanyaan pun mulai berdatangan. Mau kemana lagi hendak berlayar ? Aku pun tak tahu, bingung. Namun jauh sebelum itu saat menyusun skripsi, sudah ku mantapkan niat dan menulisnya di sebuah stiker biru bertuliskan “Wisuda, 2017 Pulau Jawa”. Mengapa aku memilih berlayar ke ibu kota. Sebab beberapa dari motivasi yang hendak ku tuju diantaranya melihat Tugu Pancoran. Entah apa itu Tugu Pancoran, aku pun tak tahu dan tak mahu tahu tuk mencari informasi baik melalui via internet maupun bertanya pada orang. Ekspektasi ku akan Tugu Pancoraan tersebut, sebuah batu besar yang dipahat membentuk suatu bangunan dan berada di lokasi wisata atau taman rekreasi. *Hmm.
Bermula pada pengerjaan skripsi, aku sangat lelah tuk menyudahinya. Entah makhluk gaib apa yang merasuki kala itu. Intinya jenuh dilanda antara dosen pembimbing dan data penelitian yang belum lengkap. Tak disengaja, kala berada di ruang Redaksi LPM Suara Kampus –organisasi kampus- ada yang memutar lagu yang dinyanyikan Iwan Fals berjudul Sore Tugu Pancoran. Lagu tersebut secara langsung menampar ku, dalam penggarapan skripsi tak jua usai. Sementara deadline untuk sidang akhir hanya menghitung hari. Bukan tak serius dalam menyelesaikannya, ada saja tumbal yang harus disalahkan tuk mencari celah pembelaan diri. [biasalah, mahasiswa ... ]
Perlahan ku dengarkan perlahan namun pasti, liriknya begitu dalam menyayat rasa. Lagu ini menceritakan seorang anak kecil penjual koran yang hidup menghadapi kerasnya ibu kota. Begitu beratnya beban si anak tersebut, harus berjualan koran dan harus sekolah. Intinya apapun itu, jangan dikeluhkan dan tetap yakin akan ada kemudahan yang datang selama diri mau. [prok-prok].
Tunus, ku jelaskan kembali padamu. Berteleportasi atau memutuskan melanjutkan pelayaran ku di tanah Jawa ini, tidaklah mudah bagi orangtua ku tuk melepas pergi. Sebab sedari tamat SD, aku sudah meninggalkannya hingga kembali ke rumah dikala libur sekolah dan kuliah saja. Apalagi di kota yang besar itu [Jakarta] tak ada keluarga kandung, baik dari pihak bapak ataupun ummi. Secara, dinamika kehidupan di sini begitu “ekstrim” dan penuh dengan puzzel yang harus disusun agar tak salah jalur. Namun, ku coba tuk meyakinkan beliau dengan “menjual” nama senior di organisasi kampus serta kenalan rekan-rekan sejawat meski beda almamater perguruan tinggi. Syukurnya, beliau memahami itu. *alhamdulillah ...

Well, penasaran ku akan si Tugu Pancoran tersebut pun terjawab. Bahwa Tugu Pancoran itu adalah patung manusia angkasa terlihat berani menjelajah angkasa. Berlokasikan di kawasan PancoranJakarta Selatan. Sayangnya. Sudah setahunan ini berada di kawasan Jl. Rasuna Said, Jakarta Selatan. Tak kunjung jua bisa berfoto kece di sana. Hanya bisa menatapnya dikejauhan. *Sibuuk. Wkwk. 

Ini dia rupa dari si "Tugu Pancoran" itu ...
Satu pesan beliau untuk ku. Beliau mempercayai segala apa yang aku lakukan di sini, bahwa itu baik tuk diri ku pribadi, keluarga dan bermanfaat bagi orang lain. Dengan restu beliau per tanggal 1 November 2016, Welcome to Jakarta” –hingga sekarang-. 

Melepas keberangkatan menuju "Tugu Pancoran"
di Bandara Internasional Minangkabau, Padang, Sumatera Barat. Senin (31/10/16)

                                                                                               Jakarta, [...]

Senin, 01 Januari 2018

“V”[arrices] "Melepas Jomblo"

Dear Neptunus.,

Apakah radar mu masih pada masa yang sama ? Sebab, sadar ku cukup lama sibuk dengan urusan yang tak berkesudahan tuk dilakoni. Ku harap, kau takkan menghujam ku sebagai wanita yang arogan tuk bercengkerama dengan mu. He he.

Baiklah Tunus. Hampir memasuki usia 6 tahun, tepatnya di tanggal 25 Februari 2018 [nantinya] ikatan tali persahabatan antara “kami”. Layaknya kategori anak yang memasuki jenjang pendidikan tingkat Taman Kanak-kanak. Namun, dalam hal ini perlu ku garis bawahi untuk mu. Itu hanya sebagai perumpamaan saja. Jangan kau telan mentah-mentah. Wkwkwk. 

Berawal pada pertemuan kami di tahun 2012, awal perkuliahan di Universitas Islam Negeri (sekarang) Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat. Saat itu, aku berada di Fakultas Tarbiyah Jurusan Manajemen Pendidikan Islam selama 2 bulan. Entah mengapa. Aku merasa “kalap” berada di jurusan tersebut. Maka terjadilah “bursa transfer” mahasiswa antar Fakultas. HUK HUK. Dewi fortuna pun memihak pada Ku kala itu. Aku ditetapkan dalam “Surat Keputusan” tercatat sebagai mahasiswa di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

Aku pun semula senang tak terkira, riang gembiraalah. Namun, kebelakangnya “manyuun”. Dikarenakan dipermulaan kuliah semester pertama hingga semester tiga, mata kuliah yang dibahas kecenderungan tentang “Dakwah bukan pada bagian “Komunikasi Utuh” Huhuhuhu. Pikiran ku mengambang bak adonan donat yang dicampur dengan bubuk “permifhan”. Ha ha ha. *Biarlah berlaluu ...

Seiring berjalannya hari demi hari. Di semester tiga, aku pun mengenalkan “jati diri” ku kepada rekan-rekan sejawat angkatan 2012. Mulai dari kepolosan , keluguan, kejaiman, kealiman dan kawan-kawannya [plaaak]. Alhasil aku menemukan beberapa di antara mereka yang tulus “menetap” tuk datang dan tinggal berbagi “rasa”. Sulit memang, dalam hal berkomunikasi. Lantaran daku bukanlah “gadih minang tulen” di antara mereka. Namun, itu tidaklah membatasi ku, apalagi mereka bercengkerama dengan ku. Meski di awal tak menerima ada sedikit “kata-kata yang tak biasa” ku dengar, memaksa ku untuk menerimanya. *Nanonano.

Lambat laun pun aku memahami semua dinamika kehidupan yang ku jalani bersama mereka, baik dalam balutan suka ataupun duka. Tak ada rasa segan, baso-basi atau apapun itu. Intinya kami sudah pastikan saling memahami satu sama lain. *Prok prok prok.

Iyaa. Mereka itu. “Varrices” namanya. Btw, ini bukan “Gengs ataupun panyakiik” yaaak *Boxing :P . Melainkan singkatan nama panggilan dari para wanita-wanita kece. “Ngakaak. Vira. Ayu. Rosi. Ririn. Indah. Claudira. Elvi dan Suci. Namun ini bukanlah disengaja, melainkan keberuntungan kami saja. Ckckck.
        ... Inilah mereka ituuuh. Gadiih-gadih bocoo 😉 ...

        Tunus. Kenapa dendangan mu kala di Pantai Heloween tak begitu riuh dalam pendengaran ku. Tepat sejak aku sampaikan pada mu tentang hari bahagia ku akan menjalani acara pernikahan. Kau membisu seribu bahasa. Yang biasanya kau suka mendendangkan ku lagu romantiis. Padahal, ku berharap dapat mendengarkan lagu Akad by Payung Teduh dari mu. Yang lirik-nya itu begini “Betapa bahagianya hati ku saat ku duduk berdua dengan muuuh. Na na na”. Namun, bukan aku. Tapi dia, Si “V”---- [Vira]. He he he.

Ku harap, kau jangan risau Tunus. Itu bukanlah aku, melainkan sahabat ku sendiri yang akan menjalaninya untuk saat ini. Hihihihi. Tepat di tanggal 13 Januari 2018, nanti. Dia akan melepas masa “ke-jombloannya”. Setidaknya, V mulai membuka pintu bagi para Lediiis berikutnya untuk melanjutkan estafet [Huaaam. Apalah iniiih]. Dari sekian lika-liku perjalanannya yang terlihat periih, senang, luka, tawa, tangis dan segala pasukannya. Akhirnya, “Pemeran Utama” by Raisa, jatuh jua ke si Abang Yofri yang sama-sama menjalani profesi di bidang pelayanan masyarakat *Polres Padang Panjang.

Tak afdhol jika kau tidak mengetahui tentang si V. Ku jelaskan pada mu, Tunus. Memiliki nama lengkap Alvira Rantika Yanti. Panggilan publik, Vira. Keluarga, Tika. Kami, Oneeng anak Ayah. Ckckck. Dia lucu, humble, cantik dan unik. Terkait plus ataupun minus dari kepribadiannya *Sensoor. Hahaha. Kidding Oneeeng. Awal pertemuan masa itu, dia ramah menyambut aku yang masih dikatakan anak baru nyempluung ke jurusan yang sama. Namun, perkiraan ku. Ia memilih orang yang dekat dengannya. Oaaalah tebak Jenggoo.

Entah mengapa. Makin kebelakangnya. Seiring perkuliahan yang selalu menuntut untuk membuat makalah kelompok. Kami keseringan satu team [Varrices]. Emang ya telepati antara kami dengan dosen begitu “kuat sinyalnya”. *Mungkin pengaruh visi dan misi yang sama. Hal ini pun merekatkan kami bak lem untuk “bermain” bersama. Jailnya, terkadang pada saat jam perkuliahan. Satu per satu dari kami saling memberi kode pertanda keluar dari ruangan perkuliahan, setelah dosen mengambil absen. Tahukah kau Tunus, kami kemana ? hmmm. Hahaha.

Kami pergi makan ke Kantin Ibu Dharma Wanita atau Kantin Uniang, namanya. Merupakan tempat Nongkrii favorit di kampus *Dek lai dakek jo Lokal. Eheheh.  EEEit. Tapi itu tergantung sikon siih, keseringan juga iiyaak [jangan ditiru, hoho]. Lanjuut. Setelah selesai makan, gilaaanya. Kami pun berbaris terhitung delapan orang sambil menghitung waktu, masuklah kami satu per satu dengan wajah tanpa dosaa. Ya salaaam. Meskipun begitu, kami tetap profesional guys. Tugas dan tanggung jawab sebagai mahasiswa tetap pada porosnya. Cieeeh. Prook Prook.

Selain itu, terkadang kita sehabis jam kuliah. Iseng aja pergi ke aparteman-nya Kak Chuuk, Indah tepatnya [dulu] di Simpang Andaleh, Lubuk Lintah, Padang, Sumatera Barat. Di tempatnya kami beristirahat menjelang jadwal perkuliahan intensif bahasa arab, bahasa inggris ataupun aktivitas di dalam kampus HMJ dan UKM. Maupun di luar kampus. Bagi kami. Apapun  aktivitas dari masing-masing, tidak ada yang membatasi untuk menjalaninya. Cukup tahu, memahami dan saling menghargai saja. Terpenting saling mengabari satu sama lain.

*Kembali ke Vira yaaak. Di tempat Kak Indah tersebut, kami memasak nasi goreng atau sesuatu yang dapat mengisi perut, tuk membungkam “pasukan anakhondah” agar tak berisiik. Hahaha. Untuk menyempurnakan kebersamaan tersebut. Si V butuh ada cemilan penutup. Dia pun mengajak si Irooih ‘Rosi untuk pergi ke Super Market. Sebut saja Citra Swalayan. Latahnya, sangking kecintaannya dengan warna Ungu. Di beliknyalah chiki-chiki nan bungkuihnyo warna biru tapi santiangnyo ndk dimakannyo doh.

“Kami : Vira, kenapa gak dimakan itu chiki-chikinya ?
 Vira : Gak mau aja.
 Kami : Trus ngapain kamu beli tadi kalau gak dimakan ?
 Vira : Karna bungkusnya warna Ungu.
 Kami : Krik ... krik ... krik ... “Pacahlah galak kami dek nyoo. Raso ka dibungkuihan Oneng ko laah. Makasiih Viraaa anak ayaah. Wakawakawakawaka.

Selain itu, polwan cantik ini belum juga move on dari ketakutannya terhadap kucing. Penyebabnya *Sensoor. Lucunya. V sampai marauang kalang kabut, ketakutan kala ada kucing yang tanpa diundang menghampirinya. Hahahaha. Btw. Masih banyak hal yang tak bisa tercurahkan akan dirinya. Tunus, perlu kau ketahui. Dia sahabat bahkan saudara yang baik untuk Ku. Ini hanya sebagian kecil penggalan kisah yang kami jalani. *Rindu kalian Guys.

EEiiitzz. Tunus. Jika kau bertanya ini baru satu orang saja, sementara masih ada beberapa “Penggalan nama” yang belum dibongkar ke publik. Tenanglah, akan kau dapatkan “Gosiip” tentang mereka. Namun, jangan pernah lelah Tunus, untuk tetap menjadi “Paparazii” di cerita Ku. *Tingkiyuu.

Soo. Tuhan., aku berharap Engkau me-ridhoi apa yang diniatkan oleh sahabat Ku. Lancarkanlah aqadnya hingga berujung sesuai dengan ketentuan yang telah Engkau tetapkan untuk segala halnya. Aamiin- Ya Rabb. *SaMaRa.

Vira, Oneng sayang dan Bang Yofri. Selamat berlayar di laut kehidupan Rumah Tangga. Terkhusus untuk kamu, Vira. Tetap jadi Oneng-nya Kami. Semoga lekas menjadi Ibu Yaaak. 
                                                                     
                                                                                                         Jakarta, [...]

Selasa, 11 April 2017

Lelaki April ...

-Part 2-

Tunus .,

Apakah kau sudah terbangun dari tidur mu yang begitu melelahkan –cemberut ku-. Ku ceritakan lagi pada mu, selanjutnya. Baiklah, sebaiknya kau basuh dahulu muka mu itu dan minumlah kopi yang telah ku seduh di meja radar itu, tuntun ku.

Setelah ia mengenalkan ku dengan berbagai aktivitas yang mulai ku sukai -mulai ku bercerita-. Ia tak lupa untuk mengajari ku mengenal hidup mulai dari salat, membaca alif-lam-mim, puasa hingga pengenalan akhlak. Meskipun tak semuanya dapat ku lakukan dengan baik. Namun aku berusaha melakukannya sebisa yang ku tekuni dalam niat.

Aku bangga hadir darinya dan aku mensyukuri itu. Kenapa ? karena aku terlahir berdarah minang dan mandailing -Ummi-. Meski disayangkan, aku tak mendapatkan hak memiliki suku ayah atau pun marga dari Ummi. Namun, aku tak mempermasalahkan soalan itu - kama kamari bedo L -. Sudahlah Tunus, tinggalkan saja pernyataan ku itu.

Tahukah kau gerangan yang ku maksud, Tunus ?.

Iyaah. Dialah Ayah-ku. Sosok lelaki kelahiran 11 April yang tak pernah ringan tangan kepada anak-anaknya, menjaga katanya, diam adalah marahnya dan sedikit tertutup. Begitulah yang ku ingat darinya dalam pertemuan ku dengan Ayah, sejak bisa bernapas hingga aku lulus S D di Ujung Batu, Riau.

Sayang, tuhan berkehandak kasih padanya. Ayah kembali pada-Nya, 9 hari dari kelahiran ku, tepatnya 12 Maret 2010. Ia kembali dalam balutan sakit asma yang dideritanya sejak lama *turunan. Sesal yang ku rasa –hingga saat ini- adalah tak bisa merawatnya.

Sebab melanjutkan pendidikan MTs/SMP di Medan, 2006. Selepas MTs pun, lanjutkan pendidikan MAN/SMA di Bukittinggi, 2009. Kemudian selepas MAN, lanjut kuliah di IAIN Imam Bonjol di Padang, 2012. *Aaaahhh ... –aku ikhlas- Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi keluarga ku. Dan aku percaya itu. Tunus.

Artinya tak banyak waktu yang dihabiskan berkumpul bersama keluarga ku. Sudah menjadi catatan di Lauh Mahfudz  bagi ku merantau –yakin ku- baik itu hidup, tiada, rezki atau pun jodoh –emoji senyum-. Latahnya. Tetangga bahkan adik bungsu ku saja tak tahu aku siapa. Jarang -bahkan- terlihat *sediiihnya.

Paling yang ku sukai darinya, kala itu aku masih bocahan TK, Tunus. Ia tak lupa menggendong ku untuk ke masjid bersama, terlebih saat magrib dan subuh. Ayah membantu ku memakai mukena dan manjanya, aku memelas bahwa aku lelah berjalan –mintak digendong-. Dassar memanglah anak kecil. Ha ha.

Haaaaaaaah.

Ku rasa cukuplah itu bagi mu, Tunus. Bukannya aku tak ingin menyudahi tentang lelaki April ku ini. Ketiadaan Ayah, memang luka mendalam bagi ku khususnya. Sebab, dari sekian anaknya. Akulah yang tak ada di sampingnya. Syukurnya, aku masih bisa menatap wajahnya, menciumnya, menyolatkannya hingga menghantar di peristirahatannya.

Tampak jelas ku lihat –ku harapkan itu mimpi- kujuran tubuhnya yang telah diselimuti kain putih itu. Seolah ia mengatakan pada ku “jangan terlalu bersandar terhadap suatu apapun. Sebab ia hanya bayangan semu. Cukup bersandar sekadarnya saja. Agar jika ia tak ada digenggaman mu lagi, tak begitu menyakitkan bagi mu, yah aku”.

Namun, aku sadar bahwa aku pun harus tetap hidup. Sebab inilah caraku mengulang bakti terkhusus untuknya. Love you, Ayah. 

“Allahummaghfirlahuu warhamhuu wa’aafihii wa’fu a’nhuu ... “. Amiin, Ya Rabb.
                                                                                                                    Jakarta, [...]









Sabtu, 04 Maret 2017

Lelaki April ...

Dear Tunus.,

Dahulu, mungkin aku lupa menjelaskan cerita April ku. Tak lah ku sengajai hal itu. Baiklah akan ku jelaskan pada mu, Tunus. Kau tahukan April ? Tak hanya sekedar nama bulan yang berada di urutan keempat setelah bulan Maret. Melainkan, ia memiliki keistimewaan tersendiri di hati ku. Sebut saja, ia lelaki April-Ku. 

Cinta pertama yang mengajari ku segala hal akan apapun dalam hidup. Ku gambarkan pada mu tentangnya, Tunus. Ia sosok lelaki setia, tampan dan penyayang yang takkan pernah (sebisanya) tuk menyakiti hati seorang gadis [kecil] *seperti ku. Sebut saja ciri-ciri gadis kecil itu manis parasnya (suka-suka saya. wekwekwek), elok lakunya [LoL], bertahi-lalat, penyayang - pastinya -, CUKUP itu sajah dahulu 😄. 

Banyak hal yang ia lakukan agar aku tak merasa jenuh [saat itu, akulah gadis pertamanya]. Sebisanya ia mengajari bagaimana aku menghargai bahkan menyeimbangi aktvitas ku menjalani masa kanak-kanak sebelum, aku masuk pada fase remaja hingga fase dewasa yang dalam benaknya [pikir ku dalam harapnya], ia bisa mengantarkan ku pada seseorang yang ia percaya. Uhuuum –emoji senyum-.  

Tunus sebisa ku merangkumnya untuk mu.

Saat itu, ia mengajak ku bermain congkak, do re mi, kuda susun, ayunan dan semuanyalah. Kemudian jika aku bosan melakukan aktivitas tersebut. Ia malah mengajak ku untuk memancing ikan di Tebat Boncah Ujung Batu [catatan penting : Ujung Batu nama kota di daerah kabupaten, Provinsi Riau] begitulah aku menamai tempat itu. 

Tempat tersebut dipenuhi dengan berbagai tumbuhan semak-semak seperti keladi air, genjer, ilalang, pepohonan berbatang besar tinggi menjulang dan lain sebagainya. Tentunya jelas sudah, air di Tebat Boncah itu tak sebening air di kamar mandi Kuuh. CKCKCK.

Dengan riang tak terkira, aku pun jungkar-jungkik lah [hanya] di depan halaman rumah –maaf, saya malu ha ha- sebab melihat sekumpulan “anakkhondah” tersusun rapih di dalam toples bekas tempat permen KIS –permen urang kayo, berkelas. Duluu- . Sebut saja cacing namanya [doi yang menggelikan]. He he ... *Krik krik krik. 

Lanjutnya, aku pun dipaksa menusukkan si doi ke mata algojo untuk dieksekusi mendapatkan “mata pancing, yess” *Ikan. Alhasil berkat kesabaran ku terhadap pemaksaannya pada ku pun membuahkan hasil. Seperempat ember hitam bertangkai yang berslogan ANTI PECAH itu pun terdapat Ruting atau ikan gabus, Sapek siam dan Puyuh. OnePiece, Binggo !!!. haaaaaaah senangnya memancing berdua dengannya. 

Tunus.

Tak hanya memancing bersama yang ia lalui bersama ku. Masih ada beberapa aktivitas lainnya yang kami habiskan kala itu. Duhaai. (To be Part 2 J ...... )


                                                                                                                            Jakarta, [...]

Selasa, 01 November 2016

Mulai ...

Ha ha ha ...

Tak apalah untuk tertawa [sejenak]. Namun, setidaknya mampu melebur "beban" 😃 😊 *No Caption


Handeeeuuf ... [saisuaak ]


Welcome ...


"Titik diam seseorang berhidup adalah saat ia tak mampu mengembangkan (lagi) layarnya mengarungi lautan"

-Vii_SdR-
OnePiece, Binggo !!!
                                   
                                                                                                                     Jakarta, [...]



Jumat, 28 Oktober 2016

-Mengunyah Masa-

Memang menunda sesuatu yang terlihat “sepele” terkadang “membunuh” karakter, kata Ku. Ops !!! (positif pikir, yaaak. Ckckck). Singkatnya, curhat J. Teruntuk kamu, para “Pengandai” [Neptunus-Hellowen], SUDIKAH kiranya gerangan tuk sejenak bertandang mata, komat-kamit plees menggoyangkan jari. Paksa Ku.

Banyak hal yang hendak ku ceritakan pada mu, Tunus-Lowe [Kau]. Entahlah, aku mulai dari mana tuk bercerita. Namun, jangan Kau sangka, Aku membual -sedikitnya ada, hahaha- menyampaikan apa yang Ku lalui dalam perjalanan cerita Ku. Bukan alibi Ku mengatakan “naluri manusia”. Huhuhuhu.

Baiklaah. Telah Ku buat ranjau** perjalanan Ku. Ku tata rapih sebisa Ku, mengumpulkan waktu yang pernah dilalui kurang-lebih (Zonk) Tahun. :D. Ku harap Kau takkan lelah memantaunya. Semoga J ...


Ckckck. Hanya saya yang paham. No Caption. Hehe ..





      Maka. Selamat datang untuk Mu, mengunyah masa Ku. 

                
                                                                                                   Ujung Batu, [...]